Dalam industri manajemen alat berat, strategi penentuan jenis perawatan mesin sangat menentukan tingkat kesiapan fisik unit (Physical Availability) dan besarnya pengeluaran biaya operasional workshop. Dua pendekatan perawatan utama yang sering diperdebatkan efektivitasnya adalah perawatan pencegahan yang terencana (Preventive Maintenance) dan perbaikan darurat setelah terjadi kerusakan komponen di lapangan (Corrective atau Breakdown Maintenance).

Keunggulan Finansial Perawatan Preventive

Preventive maintenance berfokus pada aktivitas pencegahan terencana yang dilakukan secara berkala berdasarkan akumulasi jam kerja mesin (hour meter), seperti penggantian filter harian, pelumasan grease track, serta penyetelan ketegangan belt mesin. Biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas preventif ini sangat terukur dan terjadwal dengan baik. Keuntungan utamanya adalah meminimalkan risiko terjadinya kerusakan komponen besar yang mendadak, sehingga jadwal operasional produksi tambang tidak terganggu secara tiba-tiba di tengah jalan.

Kerugian Besar Akibat Pola Kerja Breakdown

Sebaliknya, mengandalkan corrective maintenance atau membiarkan alat berat bekerja terus-menerus tanpa perawatan hingga rusak total (run-to-failure) adalah kekeliruan fatal yang sangat merugikan finansial perusahaan. Kerusakan mendadak pada komponen vital seperti main pump hydraulic excavator di tengah pit penambangan akan mengakibatkan terhentinya lini produksi, menimbulkan biaya pengiriman suku cadang darurat yang mahal, serta membutuhkan waktu perbaikan yang lama yang meningkatkan angka downtime unit.